Selasa, 07 Februari 2012

PLANET YANG HILANG




“Damar!Ini sudah malam, apa kamu besok tidak sekolah?Cepat tidur!” Malam yang damai itu dikejutkan oleh teriakan wanita paruh baya. “Bentar lah Bu, film ini langka. Coba ibu lihat alien akan menghancurkan bumi. Coba kalau hal ini benar-benar terjadi, kan kita bisa antisipasi untuk melarikan diri.” Dua bola mata pemuda itu sama sekali tak berpaling dari latar televisi. CEKLEK. Televisi yang sedari tadi sore bercahaya kini mati. “Tuh kan, kamu jadi penghayal lagi Dam!Cepat tidur!” Damar memanyunkan bibirnya. “Huh! Menyebalkan. Aku doain nanti malem aliennya dateng kesini biar ibu dibawa ke planet mereka jadi aku bisa nonton tv sampai puas.” Ibu Damar tersenyum puas. “Ibuku doakan harapanmu terkabul. Cepat tidur!” Damar tak menyahuti. Dia berjalan dengan gontai menuju kamarnya. Matanya sulit untuk terpejam. Otaknya masih memutar film THE LOST PLANET yang masih tersimpan dengan aman di dalam meorinya. Malam semakin sepi. Tak terdengar sekecilpun suara. Damar mengedipkan matanya. Detik demi detik berlalu kelopak mata Damar akhirnya menutup.
Semuanya bergetar. Damar terkejut dan membuka matanya. Ia sontak bangun dan berlari menuju jendela kamarnya. Terlihat cahay terang yang menyilaukan mata. Tangannya menyibakkan tirai yang menyelimuti jendela. Sebuah piringan dengan diameter sekitar 5 meter memenuhi halaman belakang rumah Damar. 3 sosok makhluk berwarna hijau dengan dua mata bulat besar berwarna hitam keluar dari piringan tadi. Mereka berjalan menuju pintu depan. Damar tertegun. “Alien.” Suaranya mendesah. “Ibu!” Ia memukul dahinya dengan telapak tangannya. Ia keluar dari kamarnya sdan berlari menuju pintu depa. Langkahnya terhenti. Terlambat ibunya sudah ditangkap oleh alien itu. Tidak, ibunya tidak ditangkap melainkan ibunya tengah bertransakasi dengan alien. “Apa yang dilakukan ibu?” Suara Damar sama sekali tak terdengar, ia hanya mengintip dari balik dinding. Ibu Damar mengikuti langkah ketiga alien itu. Mereka berempat keluar. Damar membuntuti mereka. Terlihat para tetangganya juga diculik oleh para alien. Damar naik ke atas piringan yang ia duga sebagai pesawat milik para alien tadi. Entah apa yang ada dalam pikirannya namun ia bisa mengartikan skema yang ada di ruang utama pesawat itu. “Putri alien tengah mencari jodoh?” Damar kebingungan. Beribu tanda Tanya memenuhi otaknya. “Jelek amat ini putrid? Mangkanya tidak ada yang mau jadi suaminya. Hiii serem banget!” Damar teringat akan ibunya dan para tetangganya. Ia keluar dari ruang utama pesawat. Pemilik pesawat itu tengah berkeliaran di kompleks perumahannya. Damar berjalan menyusuri pesawat alien. Ia berhasil menemukan ruang penyanderaan. “Huh! Dasar serakah, cari jodoh aja nyampai keluar planet kayak gini!” Damar mengenali sosok yang berada di dalam ruang tahanan. Bu Chaterin, Om Frans, Bang Toni, Mas Rahmat, Akbar, dan Luvi mereka semua pingsan. Damar berusaha mencari ibunya. “Hai, manusia Bumi! Apa yang kau lakukan? Cepat masuk ke dalam ruang tahananmu!” Damar benar-benar terkejut. Ia tak tahu harus berbuat apa. Dia hanya merunduk ketakutan. “Jangan penjaga, jangan sandera dia. Dia yang akan menjadi pangeran di kerajaan kita.” Mata Damar sontak melotot. Ia bingung. “Pangeran? Apa?! Oh tidak, aku tak mau!” Damar sudah melangkahkan kakinya. Ia hendak lari. Namun terlambat, prajurit alien itu berhasil menagkapnya. “Sang putri telah memilihmu menjadi pangeran di Planet Detori. Kau tak bisa menolak!” Prajurit alien itu memelototi Damar. “Kalau aku menolak?” Damar memiringkan kepalanya dan berontak mencoba untuk lari, namun sia-sia. “Ibu dan tetanggamu akan mati semua dank au akan hidup sendirian!” Damar tak mampu berkata-kata, ia bergidik ngeri malihat wajah putri dari Planet Detori yang akan menjadi istrinya. Prajurit alien tadi menampilkan video ibu Damar yang terkulai lemas. Ia tak tega melihat ibunya yang diikat. “Bagaimana, masih pada pendirianmu menolak sang putri?” Damar terdiam, akhirnya di terpaksa menyetujui rencana gila itu. Acara pernikahan digelar malam itu juga. Ritualnya benar-benar aneh. Ia harus memotong rambutnya. Damar benar-benar frustasi. Ia memgangi rambutnya saat dipotong. Ia memejamkan matanya. Ia juga diguyur air. Ketika ia membuka matanya ia sudah berada di dalam kamrnya dalam kondisi terbaring. Ibunya marah-marah dan mengguyurnya dengan air karena ia tak kunjung bangun. “Ibu kan sudah bilang kalau tidur jangan malem-malem. Telat bangun kan?” Damar belum sadar sepenuhnya. Ia lantas memeluk ibunya erat-erat. Ibu Damar kebingungan. Alien masih mengancam bumi kita.

SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar