“Damar!Ini sudah malam, apa kamu besok tidak
sekolah?Cepat tidur!” Malam yang
damai itu dikejutkan oleh teriakan wanita paruh baya. “Bentar lah Bu, film ini
langka. Coba ibu lihat alien akan menghancurkan bumi.
Coba kalau hal ini benar-benar terjadi, kan kita bisa antisipasi
untuk melarikan diri.” Dua bola mata pemuda itu sama sekali tak berpaling dari latar televisi. CEKLEK.
Televisi yang sedari tadi sore bercahaya kini
mati. “Tuh kan ,
kamu jadi penghayal lagi Dam!Cepat tidur!” Damar memanyunkan bibirnya. “Huh! Menyebalkan. Aku doain nanti malem
aliennya dateng kesini biar ibu dibawa ke
planet mereka jadi aku bisa nonton tv sampai puas.” Ibu Damar tersenyum puas. “Ibuku doakan harapanmu terkabul. Cepat tidur!”
Damar tak menyahuti. Dia berjalan dengan gontai
menuju kamarnya. Matanya sulit untuk terpejam. Otaknya masih memutar film THE
LOST PLANET yang masih tersimpan dengan aman di dalam meorinya. Malam semakin sepi. Tak terdengar sekecilpun
suara. Damar mengedipkan matanya. Detik demi
detik berlalu kelopak mata Damar akhirnya menutup.
Semuanya bergetar. Damar terkejut dan membuka
matanya. Ia sontak bangun dan berlari
menuju jendela kamarnya. Terlihat cahay terang yang menyilaukan mata. Tangannya menyibakkan tirai yang menyelimuti jendela.
Sebuah piringan dengan diameter sekitar 5
meter memenuhi halaman belakang rumah Damar. 3 sosok makhluk berwarna hijau dengan dua mata bulat besar berwarna hitam
keluar dari piringan tadi. Mereka berjalan
menuju pintu depan. Damar tertegun. “Alien.” Suaranya mendesah. “Ibu!” Ia memukul dahinya dengan telapak tangannya. Ia
keluar dari kamarnya sdan berlari menuju
pintu depa. Langkahnya terhenti. Terlambat ibunya sudah ditangkap oleh alien itu. Tidak, ibunya tidak ditangkap melainkan ibunya
tengah bertransakasi dengan alien. “Apa yang
dilakukan ibu?” Suara Damar sama sekali tak terdengar, ia hanya mengintip dari balik dinding. Ibu Damar mengikuti langkah
ketiga alien itu. Mereka berempat keluar.
Damar membuntuti mereka. Terlihat para tetangganya juga diculik oleh para alien. Damar naik ke atas piringan yang ia duga
sebagai pesawat milik para alien tadi. Entah
apa yang ada dalam pikirannya namun ia bisa mengartikan skema yang ada di
ruang utama pesawat itu. “Putri alien tengah
mencari jodoh?” Damar kebingungan. Beribu
tanda Tanya memenuhi otaknya. “Jelek amat ini putrid? Mangkanya tidak ada
yang mau jadi suaminya. Hiii serem banget!” Damar
teringat akan ibunya dan para tetangganya.
Ia keluar dari ruang utama pesawat. Pemilik pesawat itu tengah berkeliaran
di kompleks perumahannya. Damar berjalan menyusuri
pesawat alien. Ia berhasil menemukan ruang
penyanderaan. “Huh! Dasar serakah, cari jodoh aja nyampai keluar planet kayak gini!” Damar mengenali sosok yang berada di
dalam ruang tahanan. Bu Chaterin, Om Frans,
Bang Toni, Mas Rahmat, Akbar, dan Luvi mereka semua pingsan. Damar berusaha mencari ibunya. “Hai, manusia Bumi! Apa
yang kau lakukan? Cepat masuk ke dalam ruang
tahananmu!” Damar benar-benar terkejut. Ia tak tahu harus berbuat apa. Dia
hanya merunduk ketakutan. “Jangan penjaga, jangan sandera dia. Dia yang akan menjadi pangeran di kerajaan kita.” Mata Damar
sontak melotot. Ia bingung. “Pangeran? Apa?!
Oh tidak, aku tak mau!” Damar sudah melangkahkan kakinya. Ia hendak lari. Namun
terlambat, prajurit alien itu berhasil menagkapnya. “Sang putri telah memilihmu menjadi pangeran di Planet Detori. Kau tak bisa
menolak!” Prajurit alien itu memelototi
Damar. “Kalau aku menolak?” Damar memiringkan kepalanya dan berontak mencoba untuk lari, namun sia-sia. “Ibu dan tetanggamu
akan mati semua dank au akan hidup sendirian!”
Damar tak mampu berkata-kata, ia bergidik ngeri malihat wajah putri dari Planet Detori yang akan menjadi istrinya. Prajurit
alien tadi menampilkan video ibu Damar yang
terkulai lemas. Ia tak tega melihat ibunya yang diikat. “Bagaimana, masih
pada pendirianmu menolak sang putri?” Damar
terdiam, akhirnya di terpaksa menyetujui rencana
gila itu. Acara pernikahan digelar malam itu juga. Ritualnya benar-benar aneh.
Ia harus memotong rambutnya. Damar
benar-benar frustasi. Ia memgangi rambutnya saat dipotong. Ia memejamkan matanya. Ia juga diguyur air. Ketika ia
membuka matanya ia sudah berada di dalam
kamrnya dalam kondisi terbaring. Ibunya marah-marah dan mengguyurnya dengan air karena ia tak kunjung bangun. “Ibu kan sudah bilang kalau
tidur jangan malem-malem. Telat bangun kan ?” Damar belum sadar
sepenuhnya. Ia lantas memeluk ibunya
erat-erat. Ibu Damar kebingungan. Alien masih mengancam bumi kita.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar