Malam yang sunyi
itu tak jua meruntuhkan mentalnya untuk terus melaju menembus gelap. Dee hanya ingin berlari dari keterpurukan yang terus
membelenggunya. Namun semuanya sia-sia, klebatan bayangan itu tetap berlarian
di benaknya. Dee membiarkan tubuhnya kedinginan.
Jarum jam di tangannya sudah menunjuk pada angka 9. Ia memejamkan matanya.
Akhirnya ia memutuskan untuk bangkit.
Rumah itu
terletak sekitar 10 meter dari tempatnya berdiri tadi. Dee
langsung menuju kamar kosnya tanpa memperdulikan sapaan dari teman-temannya. “Dee, gak makan?” Dee
hanya menggeleng. Ia menutup pintu kamar kosnya rapat-rapat. Lamunannya kembali
berlari pada kejadian dalam sepekan ini.
“Hiks…Dia
terlalu egois, dia tak pernah mau mendengar aku. Selalu saja memojokkanku. Aku
tak bisa meninggalkan bang Toni atau pun A’am Dee. Hiks…” Dee
merangkul April yang tengah tenggelam dalam sesenggukannya. “Kamu harus bisa
memilih salah satu Pril, Bang Toni atau A’am, karena mereka berdua juga butuh
kepastian.” Dee memutarkan pundak April, kini mereka
berhadapan. April masih menunduk. “Itu Bang Toni sudah menjemputmu, lekas
pulanglah, pikirkan ini semua.” April mengangguk. Ia berjalan menuju Bang Toni
yang duduk di atas motornya. Tirai senja sudah diturunkan. Dee
belum bangkit. Ia terkejut, seseorang menepuk pundaknya dari belakang. “Kok
belum pulang Mbak?” Dee menolaeh ke belakang.
“A’am?” Mata Dee setengah melotot. “Hehehe….kaget ya? Maaf.” A’am menjatuhkan
tubuhnya di samping Dee. “Gak papa kan aku duduk di sini?” Dee tersenyum, namun ia sedikit canggung. “Bayar dong,
pajaknya mahal lo!” Tawa mereka berdua meledak. “Dee,
itu siapa yang main sepak bola?” Jari A’am menunjuk segerombolan siswa putra
yang tengah bermain sepak bola. Dee menoleh
A’am yang berada di sampingnya dengan wajah sebal. “Adi. Orang yang kusayang
dan menyeretku ke dalam kehancuran.” A’am terkejut, kini ia menoleh ke Dee yang berada di sampingnya dengan sigap. “Wah, maaf. Dee.” Dee tersenyum dan
menganggukan kepalanya. “Nyante aja lagi. Udah sore pulang yuk.” Dee sudah berdiri namun lengannya ditahan oleh A’am.
“Tunggu, aku boleh minta nomor ponselmu?” Dee
memandang wajah A’am dengan wajah curiga. “Please!” Dee
mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan nomor ponselnya. “Ntar malem ku sms ya.”
Dee mengangguk. Mereka berdua berjalan beriringan
menuju gerbang utama.
Dee larut dalam tugas-tugas sekolahnya yang menumpuk.
Seluruh kasur diselimuti oleh berbagi judul buku. “Ini tugas banyak amat.” Dee menyeruput cokelat panasnya yang kini sudah dingin
dan tersisa 1/8 mug. Rrrr Rrrr Rrrr Rrrr. Ponselnya berdering. Sebuah sms
masuk.
From : 081289928892
Mlm mbag,.
Dee
hampir tersedak. Jarinya menari lincah di atas keypad.
To : 081289928892
Mlm jg,.sp y?
Rrrr Rrrr Rrrr. Sebuah pesan
kembali masuk ke ponselnya.
From : 081289928892
A’am mbak.e
Dee
menjadi sedikit lega. Orang yang mengirimi ia pesan bukan peneror yang
menyebalkan. Dee lantas membalas kembali pesan
dari A’am. Ritual berbalas pesan itu terus berlanjut. Percakapan mereka
menjurus ke segala arah. Ponsel Dee berdering. Sebuah panggilan masuk. A’am
meneleponnya. KLIK. “Halo..ada apa Am?” Di seberang msih hening belum terdengar
sahutan. “Pengen nelpon aja, kangen sama mbak Dee.”
Dee terdiam ia bingung apa maksud A’am. “Masak
iya? kamu gak dicariin sama April?” Kini giliran A’am yang terdiam. “Nggak!” Dee tertegun. “Ih…gak usah sekasar itu kali Mas. Emang
kenapa?” Dee meneguk coklatnya hingga tandas.
“Pengen mutusin dia aja aku. Lagian Bang Toni bisa beliin dia apa aja, sedang
aku, bisa apa yang cuma anak sekolahan gini?” Dee
tak bisa mengomentari A’am. “Dee, halo!” Dee gelagapan. “I..iya!” Terdengar A’am mendesah.
“Hhhh!Udah ngantuk ya, tidur sana!”
A’am jengkel. “Hehehe, iya Mas met
malem.” Dee meluruskan kakinya. “Malem juga.”
KLIK.
Pagi
itu Dee tergesa-gesa karena ia terlambat
bangun. Ia berlari keluar kamar kosnya. Betapa terkejutnya dia saat ia
menemukan orang yang sama sekali tak ia duga. “A’am?” A’am tersenyum. “Ayo
cepat naik, sepuluh menit lagi masuk.” Dee tak
mampu berkata-kata. Ia masih bingung. Dee naik
ke atas motor A’am. Kuda besi itu melaju dengan cepat. “Pegangan Dee biar gak
jatuh.” Dee gelagapan, dia masih bingung
dengan A’am yang muncul secara tiba-tiba. “E…I iya. Ini udah pegangan.” Dee menggenggam pundak A’am. “Hhhh, pegangan di situ,
pegangan itu di sini!” A’am menepuk pinggangnya. Dee
kembali salah tingakah. Ia berusaha menguasai dirinya. “Sayang tanganku ntar
iritasi. Hehehe.” A’am melirik Dee lewat kaca
spion. “Jangan lah, nanti pinggangku juga iritasi.” Tawa mereka meledak. Sampai
di parkiran sekolah mereka berdua menjadi perhatian seantero sekolah. Bagaimana
tidak belum ada kabar A’am putus dari April eh A’am sudah membonceng Dee pagi-pagi. Dee
benar-benar malu. “Makasih Am!” Dee langsung
berlari menuju kelas. Dee tidak menunggu A’am
meski mereka sekelas. Suasana kelas begitu bising. April terduduk di kursi palin belakang. Dee memandangnya dengan wajah prihatin. Bel berbunyi nyaring. Bapak wakil kesiswaan memasuki ruangan kelas Dee. "Anak-anak besok kita akan melaksanakan rencana study tour kita ke Pantai Batang Hari. Mohon disiapkan perlengkapannya. "Baik Pak!!!!" Seluruh kelas menjawab serentak. A'am duduk berdekatan dengan Dee. Dee benar-benar tak enak hati karena di sampingnya April berada. "Dee, besok ngikut kan?" Dee benar-benar salah tingkah. "I..iya lah Am. Agak sana dikit dong, gak enak diliatin anak-anak." Dee mendorong tubuh A'am yang semakin dekat dengan tubuhnya. "Gak enak napa? Ditambah bumbu biar enak." Dee tersenyum getir. Dee hendak berdiri meninggalkan A'am, namun tangannya ditahan oleh A'am. "Aduh,..aku mau ke kantin." A'am tak memperdulikannya, ia tetap menahan Dee. Akhirnya Dee kembali duduk. "Besok aku jemput lagi ya.." Dee menggeleng dan berusaha untuk berdiri kembali, namun A'am tetap menahannya. "Please...." A'am memohon. Dee menghela napas. "Pokoknya jemput April juga." A'am menatap Dee dengan wajah sebal. "Aku udah putus ama dia!" Dee terkejut bukan main. "Gak mau!" Dee bersikeras. "Kalau gitu ntar malam aku ke rumahmu." A'am mengancam, ia melipat tangannya di dadanya. "Heh, jangan!" Dee kelimpungan. A'am memainkan alisnya. "Mau kan?" Namun Dee tetap bersikaeras. Ia berlari keluar kelas. A'am mengejarnya dan berhasil meraih lengan Dee. "Dee, dengerin aku. Aku sayang sama kamu. Gak tau kenapa, kamu menghangatkan hari-hariku sejak April udah gak peduli sama aku." Dee tersenyum sinis. "Critanya aku jadi pelarian?Mau ngancurin pertemananku sama April?" A'am terdiam ia tetap menggenggam jemari Dee. "Sumpah aku gak ada niat kayak gitu Dee." Dee menjatuhkan tubuhnya pada kursi taman. A'am turut duduk di sampingnya. "Jujur Am, waktu pertama kita bertemu aku udah nyimpen rasa buat kamu. Tapi aku tahu kalau hal itu cuma akan buat masalah baru. Aku juga sayang sama kamu, tapi aku juga sayang sama April, tolong balikan sama dia. Sayangi dia sebagai bukti kalau kamu sayang sama aku." A'am menunduk tanpa berkata-kata. "Tapi Dee..." Dee meremas jemari A'am. "Please, demi aku." A'am mengangguk dan dia kembali ke kelas terlebih dahulu.
Pagi itu Dee sudah bersiap bersama tas ranselnya. Ia berangkat ke sekolah dengan bahagia. Sampai di sekolah ia langsung masuk ke dalam bus. Teman-temannya sudah banyak yang tiba. Dee mendapati A'am yang duduk di samping April. Dee tersenyum kepada mereka berdua. Dee duduk bersama Fira. Perjalanan menuju pantai Batang Hari berlangsung ramai. Tiba di lokasi para siswa semakin histeria. Mereka berlarian menceburkan diri ke laut. Dee berlarian bersama kawan-kawannya. Di kejauhan terlihat A'am yang menggendong April dan menceburkannya ke laut. Mereka benar-benar mesra. Dee tersenyum. "Semoga kalian bahagia. Aku sayang kalian."
Dee tersadar ia membuyarkan lamunannya. "Hhhh...Kuyakin ini pilihan yang tepat."
Kan kuabaikan segala rasaku
Agar kaupun tenang dengannya
Kan kuabaikan segala hasratku
Demi dirimu bintang
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar