Satu
lagi daun kering yang jatuh meninggalkan rantingnya. Ini adalah daun yang ke
289 sejak pemuda berkacamata itu duduk di kursi besi yang mulai berkarat. Meski
cahaya taman sangat remang-remang guratan wajah sedihnya tak bisa
disembunyikan. “Hihihi.” Pemuda itu terkejut. Matanya langsung menangkap
bayangan seorang gadis bergaun ungu dengan rambut dikepang dua. Paras gadis itu
sungguh cantik. Apalagi lengkungan merah di antara dua pipinya. Pemuda itu
bangkit dari tempat duduknya. Kakinya baru maju selangkah, TES keningnya basah.
Ia mengusap keningnya perlahan. “Darah?” Ia menengadahkan kepalanya. Tetesan
darah itu terus menghujaninya.
Kedua
mata itu mengerjap berulangkali. Kasurnya mulai basah. Torya menatap
langit-langit kamar kosnya dengan wajah prihatin. Gentingnya bocor. Hujan
terdengar makin menderas. Gesekan ranting yang beradu dengan dinding kamar
kosnya terdengar begitu keras. Detakan jam dinding menyapa telinga Torya. Ia
giring bola matanya untuk melihat waktu keberadaannya sekarang. Pukul 04.45
WIB. “Mimpi apa juga?Menyebalkan!” Torya meninggalkan kasurnya yang basah. Ia
berjingkat menuju kamar mandi. Belum jauh dari pintu kamarnya, ia kembali ke
tempat tidurnya. Dengan jarak 2 meter dari tempat tidurnya ia berusaha meraih
kain sarung yang sejak semalam membelitnya. Ia bungkus tubuhnya dengan kain
sarung tadi agar tubuhnya tidak menggigil. Detak jantungnya terdengar sangat
keras. Rasa takut mulai menghampirinya. Semua ruangan gelap. “Huh!Gelap-gelap
gini pengen pipis lagi!”Torya meraba saku celananya. Ia merogoh ponselnya.
Ponselnya kini menerangi langkah demi langkahnya. Pintu kamar mandi itu
terletak lebih jauh dari biasanya. Ia mencoba melawan rasa takutnya. Keluar
dari kamar mandi Torya mendengar tangisan anak permpuan. Suaranya hampir tak terdengar
karena beradu dengan air hujan. Ia merapatkan tubuhnya pada dinding. Meski
dalam kondisi yang sangat gelap bayangan dua pria yang bertubuh kekar itu dapat
dengan jelas ia lihat. Mereka tengah membicarakan sesuatu.
Jantung
Torya berdegup sangat kencang. “Kalungku rasanya makin sempit.” Kata salah satu
dari mereka. Terlihat ia menggerak-gerakkan kalung yang membelit lehernya.
“Punyaku juga. Apa juga sih tujuan tua bangka itu mengharuskan kita pakai
kalung ini?” Salah seorang lagi juga juga berbicara. “Bentuknya aneh pula.
Daun-daun ganja kok warnanya biru!” Torya tak berani bergerak sama sekali.
Salah satu dari kedua pria kekar itu membasuh tangannya dengan tetesan air
hujan. “Gadis tadi benar-benar ketakutan. Jujur aku tak tega. Waktu aku
melihatnya aku jadi teringat anakku kalau merengek minta jajan.” Ia mengibaskan
tangannya usai ia basuh dengan air hujan tadi. “Kau melakukan ini supaya dia
bisa jajan kan?”
Terdengar pria yang yang tadi membasuh tangannya dengan air hujan mendesah bebarengan dengan tawanya.
KECIPAK-KECIPAK. Mereka pergi. Genangan air hujan muncrat ke segala arah karena
mereka injak dengan kasar.
Torya
tak mampu untuk bangkit. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding. Ia hanya
terdiam di situ. Rrrr Rrrr. Ponselnya bergetar. Torya benar-benar terkejut.
Happy B’Day honey. I hope u can be a better person. : *
Sender
: Pya Sent : 29 Desember 2011.
00.01.24.
Pesan yang seharusnya masuk tadi
malam baru masuk karena Torya menonaktifkan ponselnya. “Hehehe…ulang tahun
sendiri malah lupa.” Torya tersenyum sisnis. Jarinya menari di atas keypad.
Thanks yaa chaiyank,. U r always the 1st. : *. Love u..
Torya
bangkit dari tempatnya ia berada tadi. Ia beranjak menuju kamar kosnya.
Perlahan ia merebahkan tubuhnya. Mencoba untuk tidur kembali. Namun raungan
sepeda motor yang semakin memenuhi jalan raya membuatnya gusar. Ia pun
memutuskan untuk bangun. Di luar kamarnya terdengar celoteh kawan-kawannya yang
kelihatannya sudah sadar dari perjalanan mimpi mereka. Torya meletakkan
ponselnya di atas meja. Ia meraih handuk yang menggantung di samping tempat
tidurnya. Toktoktok. “Ya!Apa kau tak berminat untuk bangun?” Terdengar suara
salah satu teman Torya. Torya meraih handle pintu. Dengan senyum yang paling
sumringah ia sapa temannya. “Ayam belum bangun aku udah sadar kali Bang!” Teman
Torya yang tadi membangunkannya hanya mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.
Anjas begitulah Torya biasa memanggil sahabat karibnya ini.
29 Desember 2011 05.15 am
Torya
masih berdiri di depan pintu. “Hhhh..hhhh…Bro tetangga sebelah kemalingan!”
Semua mata di ruangan itu sontak langsung bertumbuk pada sosok yang memecah
keheningan pagi. “Kemalingan?!” Anjas menghampiri Iko yang tengah berusaha
menata nafasnya yang terengah-engah. “He’e, itu Mona sama ibuknya nangis-nangis,
warga kampung pada ngumpul di sana.”
Tanpa banyak komando lagi seluruh warga kos yang berada dalam ruangan itu
meroket menuju rumah Mona.
“Hiks.
Semua gelap waktu itu jadi tak kelihatan.” Gadis itu sibuk menjelaskan
pertanyaan yang terus menghujaninya. “Mona, sabar ya.” Torya mengahampiri gadis
itu. Mona hanya mengangguk dia masih sesenggukan. “Tadi kita diancam mau
dibunuh, kami tak berani menjerit lagipula hujannya deras jadi juga tak kedengaran.”
Mona masih bersusah payah menjelaskan. “Uang itu mau kupakai buat bayar spp-nya
Mona. TV-nya pun diambil.” Ibunya Mona juga bersusah payah meladeni pertanyaan
orang-orang. Torya tak kuasa melihat air mata yang terus membanjiri pipi Mona.
Tora berusaha menenangkan Mona. Lengan kanan Mona menggelayut pada pudak Torya.
“Minggu depan ujian, kalau aku tak melunasi uang spp aku tak diijinkan ikut
ujian Ya.Hiks.” Tangis Mona makin menjadi jadi. “Ya, Pya nyari tuh!” Iko kini
berdiri berdampingan dengan Pya. Mata Pya langsung tertuju pada lengan kanan
Mona yang melingkar pada pundak Torya. Pya hanya menaggapinya dengan anggukan.
Ia menghampiri Mona dan Torya. “Kemarin kejadiannya di ruang mana Mon?” Pya
merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Torya dan Mona yang berada pada posisi
duduk. “Di ruang tengah. Hiks..” Lengan kiri Mona menunjuk pada ruangan tengah.
Torya melepaskan lengan kanan Mona yang sejak tadi melingkar di pundaknya. Ia
berdiri dan berjalan menuju ruang tengah. Matanya menelanjagi setiap sudut
ruangan. Ruang itu benar-benar berantakan. Torya membolak-balik lembaran Koran
bekas yang berserakan di lantai. Ia menyusunnya. Pandangannya tertuju pada
manik kecil berwarna biru. Ia merobek kertas koran dan memungut manik tadi
dengan dilapisi kertas koran lalu ia bungkus manik tadi.
Matahari
mulai meninggi. Torya dan kawan-kawannya meninggalkan kediaman Mona. Mereka
beranjak menuju sekolah. Sepeda yang selalu setia menemani Torya berangkat
sekolah, hari itu mengistirahatkan diri. Rantainya putus. Akhirnya Torya
memilih untuk berboncengan dengan Iko. “Ko, aku nebeng kamu ya?” Iko memandang
Torya dengan wajah sinis. “Tukang ojek nih aku critanya?” Torya tersenyum
dengan ekspresi memohon. “Iya-iya bareng aku Mas.”
Jalanan
pagi itu tampak lenggang meski banyak kendaraan yang melintas. Iko dan Torya
terhanyut dalam tawa renyah mereka. Iko menghentikan sepedanya di depan sebuah
toko. “Mau ngapain Bang?” Torya turun dari sepeda Iko dengan ragu-ragu. “Bentar
ya Cuy, ibuku tadi telfon aku disuruh mampir ke rumah pamanku.” Iko masuk ke
dalam toko, Torya hanya mengekor di belakangnya tanpa banyak kata. Tampak
barang-barang antik dan barang-barang bekas yang berjajar di dalam etalase
besar. Torya menggiring bola matanya untuk mengamati satu per satu benda-benda
itu. Pandangannya terhenti pada banyaknya juntaian kalung yang berjumlah
sekitar 10 buah. Kalung itu terbuat dari manik-manik berbentuk daun ganja yang
berwarna biru. Torya tenggelam dalam seribu satu tanya tanya yang bergelimang
dalam otaknya. Lamunannya terhenti ketika pundaknya ditepuk seseorang. Ia
menoleh ke belakang. Iko sudah berdiri di sampingnya. “Jadi brangkat gak Mas?”
Torya tersenyum, bebarengan dengan anggukan yang mantap ia merangkul Iko dan
menggeretnya keluar dari toko itu.
“Ko,
pulang sekolah ntar anterin aku ke toko pamanmu tadi ya.” Iko menatap Torya
dengan wajah heran. Torya tersenyum penuh permohonan. “Aku tadi nemu barang
bagus banget, pengen beli aku.” Mimik Iko seketika berubah. “Oh,..Ya.”
Jam
pulang sekolah terasa sangat lama. Torya mulai didera oleh rasa kantuk. Ia tak
berdaya mendengar penjelasan dari Pak Mahmud guru sejarah di kelasnya.
“Huuaaahh!!” kali ini Torya menguap untuk yang ke 12 kalinya. Torya memutuskan
untuk bangkit. “Pak, permisi ke belakang.” Pak Mahmud hanya mengangguk tanpa
melihat Torya. Torya membasuh mukanya berkali-kali. “Iya Paman, Ibu sudah
mengabari kalau uangnya sudah sampai.” Torya hanya diam. Ia mencoba mempertajam
pendengarannya. KLEK. Terdengar pintu kamar mandi di buka. Torya kembali ke
depan wastafel dan mencuci mukannya kembali. Torya memandang sosok yang keluar
dari kamar mandi. “Iko?” Torya mengembangkan bibirnya. Iko terkejut bukan main.
“Hai, aku ke kelas dulu ya.” Torya hanya mengangguk. Ia mengeluarkan sapu
tangan dari sakunya. Dompetnya turut tertarik keluar dan jatuh. Dompetnya
membuka. Ia teringat manik biru yang ia temukan di rumah Mona. Manik biru itu
masih tersimpan rapi di dalam kertas koran. Ia menutup dompetnya dan memasukkannya
kembali ke dalam sakunya. Dengan langkah cepat ia berjalan ke kelas. Pantatnya
hampir menyentuh kursi, bel tanda pulang sekolah berdering. Ia tetap
melanjutkan untuk duduk. Ia mencangklong ranselnya dan segera berhambur ke luar
kelas. Ia merogoh saku celananya.
Q tunggu d g’bang,
Inged am janjimu td kn bro?
Sent
To : Iko
Torya
menyandarkan tubuhnya pada tiang di samping gerbang. Matanya mengamati satu per
satu makhluk yang lewat di depannya. Iko berjalan gontai berdampingan dengan
sepedanya. Iko hanya mengangguk mengisyaratkan Torya untuk segera naik. Dalam
perjalanan mereka tak bergurau seperti biasanya. Diantara mereka berdua tidak
ada yang bersedia membuka percakapan. Sampai di depan toko pamannya Iko
merapatkan sepedanya ke trotoar. “Siang Paman!” Laki-laki tua itu menoleh
dengan terkejut. Torya tersenyum mencoba mengakarbkan diri. Namun lelaki tua
itu tak menggubrisnya. “Kesini lagi?Kurang yang tadi?” lelaki tua itu menatap
Iko dengan tajam. Torya melirik Iko,
Ia hanya tertunduk. “Ini temenku
mau liat-liat toko paman.” Lelaki tua mengerdipkan matanya sebagai tanda
kepahamannya. “Masuk aja.” Torya mengangguk dengan sopan. Ia berjalan
beriringan dengan Iko. Langkah Torya lansung tertuju pada letak kalung bermanik
biru tadi. “Boleh kufoto?” Torya menatap Iko. “Buat apa?” Iko sedikit memajukan
wajahnya. “Buat koleksi di hpku Ko, boleh ya?” Jari Torya meraba kalung itu secara
perlahan. “Terserah.” Torya merogoh ponselnya. Ia memfoto kalung tadi. Torya
memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. “Pulang yuk!” Torya merangkul
pundak Iko. “Gak jadi beli?” Iko tersenyum sambil memiringkan kepalanya
sedikit. “Belum punya uang, toh aku udah punya fotonya.” Iko menggeleng
jengkel. Mereka berdua keluar dari dalam toko. “Paman aku pulang dulu ya.”
Paman Iko memandang dengan heran, dia menganggukkan kepalanya.
Iko
mengayuh sepedanya dengan cepat. Sesampai di tempat mereka kos, Torya turun
dari sepeda Iko dan segera berlari ke kamarnya. Ia melepas sepatunya dan
membaringkan tubuhnya di atas kasur. Matanya terpejam. Tak terasa ia terlelap.
Semuanya
putih. Torya mencoba membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya. Asbes di kamar
kosnya ternyata baru diperbaiki. Ia bangkit dan segera berganti pakaian. Ia
berhambur ke rumah Mona. Mona tengah duduk di teras. Torya tersenyum lalu
menghampirinya. “Ada
acara gak?” Mona menatap Torya dengan wajah heran. Ia menggelengkan kepalanya.
“Ikut aku yuk.” Mona menurut saja saat tangannya digeret Torya. Mereka berjalan
beriringan menyusuri trotoar. Torya merogoh sakunya. Ia mengeluarkan ponselnya
dan mengetikkan sebuah pesan untuk Pya. “Kita mau kemana?” Mona mulai membuka
percakapan. Torya hanya tersenyum. Langkah Torya terhenti di depan toko paman
Iko tadi. Mona menatap Torya dengan wajah heran. Torya mengangkat kedua alisnya
memberi isyarat agar Mona mengikuti langkahnya. Mereka masuk ke dalam toko.
“Silahkan!” Paman Iko kini lebih ramah daripada tadi siang saat Torya
berkunjung bersama Iko. Mereka berjalan menyusuri etalase yang berisikan
barang-barang elektronik bekas. Terlihat dua pekerja yang tengah membersihkan
debu-debu di atas etalase. Ponsel Torya bergetar. Dia memandang layar ponselnya
dengan wajah serius. Dia tertegun cukup lama. Mereka terus berjalan menyusuri
lobi toko. Pada sampai akhirnya mereka kembali lagi ke meja kasir. “Paman,
boleh saya bertanya?” Paman Iko hanya mengangguk. “Televisi nomor 3 dari kanan
paman beli dari siapa?” Lelaki tua itu benar-benar terkejut. “Saya tak
bermaksud menuduh paman, namun bukti-bukti yang saya temukan tak dapat menolak
fakta Paman. Tadi subuh saya mendengar percakapan dua orang lelaki saya yakin
mereka berdua yang merampok rumah Mona tadi malam. Televisi itu menjadi bukti
utama, awalnya saya tidak menyadari tapi…” Torya merogoh ponsel di sakunya. Dan
menunjukkan layar ponselnya yang bergambar fotonya bertiga bersama Mona dan Pya
pada lelaki tua itu. “Stiker yang menempel pada TV itu sama persis dengan stiker
yang menempel pada TV-nya Mona. Coba lihat TV di balik 3 orang ini. Saya lihat
pekerja Paman mengenakan kalung yang sama.”Torya mengeluarkan manik biru yang
terbungkus kertas koran dari sakunya. “Saya sudah menghitung jumlah manik
kalung yang menggantung di sana
sebanyak 28 biji. Kalung itu sama persis dengan yang dikenakan pekerja Paman.
Kalau boleh saya hitung jumlah manik kalung pekerja paman satu per satu pasti
salah satu diantaranya berjumlah 27 biji. Bagaimana?” Torya tersenyum sinis.
“Torya awas!!!!Aaaa!!!” Sebuah pisau terhunus pada dada Mona. Napasnya mulai
tak beraturan. Terdengar suara sirine polisi. Torya memeluk Mona erat-erat.
“Mona kamu harus kuat Mon.” Paman Iko beserta para pekerjanya digiring ke
kantor polisi. Pya menghampiri Torya dan Mona. “Cepat telfon ambulance Ya!”
Torya menangis sejadi-jadinya sampai pacarnya pun ia bentak. “I I iya.” Namun
terlambat Mona sudah tiada.
Pemakaman
Mona berlangsung kidmat. Banyak tangis duka yang menyelimuti prosesi tersebut.
Satu per satu pelayat meninggalkan makam Mona. Hingga akhirnya hanya tersisa
Torya dan Pya yang tak beranjak dari tempat tersebut. “Pya, aku ingin jujur satu hal.” Pya yang
masih sesenggukan menatap Torya dalam-dalam. “Sesungguhnya rasaku padamu tak
lebih dari sebatas sahabat. Aku sebenarnya mencintai Mona, hanya saja dia
menyuruhku membuktikan cintaku kepadanya dengan aku harus berpacaran denganmu.
Karena dia tahu kamu cinta ke aku. Maafin aku Ya.” Pya hanya tertunduk.
Tangisnya makin menjadi. Namun ia tetap berusaha berkata-kata. “Jujur, aku
kecewa dan marah padamu. Namun jika ini takdirnya aku rela. Aku juga minta maaf
karena telah melarutkanmu dalam kebohongan. Aku pergi dulu sampai jumpa di
kisah yang lain.” Pya menepuk pundak Torya dan meninggalkan Torya seorang diri
di samping makam Mona.
Biarlah
kusimpan, sampai nanti aku
Kan ada
disana, kenanglah diriku
Dalam
kedamaian, ingatlah cintaku
Kau tak
terlihat lagi, namun cintamu abadi,
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar