Minggu, 05 Februari 2012

ATORYA




            Satu lagi daun kering yang jatuh meninggalkan rantingnya. Ini adalah daun yang ke 289 sejak pemuda berkacamata itu duduk di kursi besi yang mulai berkarat. Meski cahaya taman sangat remang-remang guratan wajah sedihnya tak bisa disembunyikan. “Hihihi.” Pemuda itu terkejut. Matanya langsung menangkap bayangan seorang gadis bergaun ungu dengan rambut dikepang dua. Paras gadis itu sungguh cantik. Apalagi lengkungan merah di antara dua pipinya. Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya. Kakinya baru maju selangkah, TES keningnya basah. Ia mengusap keningnya perlahan. “Darah?” Ia menengadahkan kepalanya. Tetesan darah itu terus menghujaninya.
            Kedua mata itu mengerjap berulangkali. Kasurnya mulai basah. Torya menatap langit-langit kamar kosnya dengan wajah prihatin. Gentingnya bocor. Hujan terdengar makin menderas. Gesekan ranting yang beradu dengan dinding kamar kosnya terdengar begitu keras. Detakan jam dinding menyapa telinga Torya. Ia giring bola matanya untuk melihat waktu keberadaannya sekarang. Pukul 04.45 WIB. “Mimpi apa juga?Menyebalkan!” Torya meninggalkan kasurnya yang basah. Ia berjingkat menuju kamar mandi. Belum jauh dari pintu kamarnya, ia kembali ke tempat tidurnya. Dengan jarak 2 meter dari tempat tidurnya ia berusaha meraih kain sarung yang sejak semalam membelitnya. Ia bungkus tubuhnya dengan kain sarung tadi agar tubuhnya tidak menggigil. Detak jantungnya terdengar sangat keras. Rasa takut mulai menghampirinya. Semua ruangan gelap. “Huh!Gelap-gelap gini pengen pipis lagi!”Torya meraba saku celananya. Ia merogoh ponselnya. Ponselnya kini menerangi langkah demi langkahnya. Pintu kamar mandi itu terletak lebih jauh dari biasanya. Ia mencoba melawan rasa takutnya. Keluar dari kamar mandi Torya mendengar tangisan anak permpuan. Suaranya hampir tak terdengar karena beradu dengan air hujan. Ia merapatkan tubuhnya pada dinding. Meski dalam kondisi yang sangat gelap bayangan dua pria yang bertubuh kekar itu dapat dengan jelas ia lihat. Mereka tengah membicarakan sesuatu.
            Jantung Torya berdegup sangat kencang. “Kalungku rasanya makin sempit.” Kata salah satu dari mereka. Terlihat ia menggerak-gerakkan kalung yang membelit lehernya. “Punyaku juga. Apa juga sih tujuan tua bangka itu mengharuskan kita pakai kalung ini?” Salah seorang lagi juga juga berbicara. “Bentuknya aneh pula. Daun-daun ganja kok warnanya biru!” Torya tak berani bergerak sama sekali. Salah satu dari kedua pria kekar itu membasuh tangannya dengan tetesan air hujan. “Gadis tadi benar-benar ketakutan. Jujur aku tak tega. Waktu aku melihatnya aku jadi teringat anakku kalau merengek minta jajan.” Ia mengibaskan tangannya usai ia basuh dengan air hujan tadi. “Kau melakukan ini supaya dia bisa jajan kan?” Terdengar pria yang yang tadi membasuh tangannya dengan air hujan  mendesah bebarengan dengan tawanya. KECIPAK-KECIPAK. Mereka pergi. Genangan air hujan muncrat ke segala arah karena mereka injak dengan kasar.
            Torya tak mampu untuk bangkit. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding. Ia hanya terdiam di situ. Rrrr Rrrr. Ponselnya bergetar. Torya benar-benar terkejut.
Happy B’Day honey. I hope u can be a better person. : *
                        Sender : Pya    Sent : 29 Desember 2011. 00.01.24.
Pesan yang seharusnya masuk tadi malam baru masuk karena Torya menonaktifkan ponselnya. “Hehehe…ulang tahun sendiri malah lupa.” Torya tersenyum sisnis. Jarinya menari di atas keypad.
Thanks yaa chaiyank,. U r always the 1st. : *. Love u..
            Torya bangkit dari tempatnya ia berada tadi. Ia beranjak menuju kamar kosnya. Perlahan ia merebahkan tubuhnya. Mencoba untuk tidur kembali. Namun raungan sepeda motor yang semakin memenuhi jalan raya membuatnya gusar. Ia pun memutuskan untuk bangun. Di luar kamarnya terdengar celoteh kawan-kawannya yang kelihatannya sudah sadar dari perjalanan mimpi mereka. Torya meletakkan ponselnya di atas meja. Ia meraih handuk yang menggantung di samping tempat tidurnya. Toktoktok. “Ya!Apa kau tak berminat untuk bangun?” Terdengar suara salah satu teman Torya. Torya meraih handle pintu. Dengan senyum yang paling sumringah ia sapa temannya. “Ayam belum bangun aku udah sadar kali Bang!” Teman Torya yang tadi membangunkannya hanya mengangguk dengan senyum yang dipaksakan. Anjas begitulah Torya biasa memanggil sahabat karibnya ini.

29 Desember 2011 05.15 am
            Torya masih berdiri di depan pintu. “Hhhh..hhhh…Bro tetangga sebelah kemalingan!” Semua mata di ruangan itu sontak langsung bertumbuk pada sosok yang memecah keheningan pagi. “Kemalingan?!” Anjas menghampiri Iko yang tengah berusaha menata nafasnya yang terengah-engah. “He’e, itu Mona sama ibuknya nangis-nangis, warga kampung pada ngumpul di sana.” Tanpa banyak komando lagi seluruh warga kos yang berada dalam ruangan itu meroket menuju rumah Mona.
            “Hiks. Semua gelap waktu itu jadi tak kelihatan.” Gadis itu sibuk menjelaskan pertanyaan yang terus menghujaninya. “Mona, sabar ya.” Torya mengahampiri gadis itu. Mona hanya mengangguk dia masih sesenggukan. “Tadi kita diancam mau dibunuh, kami tak berani menjerit lagipula hujannya deras jadi juga tak kedengaran.” Mona masih bersusah payah menjelaskan. “Uang itu mau kupakai buat bayar spp-nya Mona. TV-nya pun diambil.” Ibunya Mona juga bersusah payah meladeni pertanyaan orang-orang. Torya tak kuasa melihat air mata yang terus membanjiri pipi Mona. Tora berusaha menenangkan Mona. Lengan kanan Mona menggelayut pada pudak Torya. “Minggu depan ujian, kalau aku tak melunasi uang spp aku tak diijinkan ikut ujian Ya.Hiks.” Tangis Mona makin menjadi jadi. “Ya, Pya nyari tuh!” Iko kini berdiri berdampingan dengan Pya. Mata Pya langsung tertuju pada lengan kanan Mona yang melingkar pada pundak Torya. Pya hanya menaggapinya dengan anggukan. Ia menghampiri Mona dan Torya. “Kemarin kejadiannya di ruang mana Mon?” Pya merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Torya dan Mona yang berada pada posisi duduk. “Di ruang tengah. Hiks..” Lengan kiri Mona menunjuk pada ruangan tengah. Torya melepaskan lengan kanan Mona yang sejak tadi melingkar di pundaknya. Ia berdiri dan berjalan menuju ruang tengah. Matanya menelanjagi setiap sudut ruangan. Ruang itu benar-benar berantakan. Torya membolak-balik lembaran Koran bekas yang berserakan di lantai. Ia menyusunnya. Pandangannya tertuju pada manik kecil berwarna biru. Ia merobek kertas koran dan memungut manik tadi dengan dilapisi kertas koran lalu ia bungkus manik tadi.
            Matahari mulai meninggi. Torya dan kawan-kawannya meninggalkan kediaman Mona. Mereka beranjak menuju sekolah. Sepeda yang selalu setia menemani Torya berangkat sekolah, hari itu mengistirahatkan diri. Rantainya putus. Akhirnya Torya memilih untuk berboncengan dengan Iko. “Ko, aku nebeng kamu ya?” Iko memandang Torya dengan wajah sinis. “Tukang ojek nih aku critanya?” Torya tersenyum dengan ekspresi memohon. “Iya-iya bareng aku Mas.”
            Jalanan pagi itu tampak lenggang meski banyak kendaraan yang melintas. Iko dan Torya terhanyut dalam tawa renyah mereka. Iko menghentikan sepedanya di depan sebuah toko. “Mau ngapain Bang?” Torya turun dari sepeda Iko dengan ragu-ragu. “Bentar ya Cuy, ibuku tadi telfon aku disuruh mampir ke rumah pamanku.” Iko masuk ke dalam toko, Torya hanya mengekor di belakangnya tanpa banyak kata. Tampak barang-barang antik dan barang-barang bekas yang berjajar di dalam etalase besar. Torya menggiring bola matanya untuk mengamati satu per satu benda-benda itu. Pandangannya terhenti pada banyaknya juntaian kalung yang berjumlah sekitar 10 buah. Kalung itu terbuat dari manik-manik berbentuk daun ganja yang berwarna biru. Torya tenggelam dalam seribu satu tanya tanya yang bergelimang dalam otaknya. Lamunannya terhenti ketika pundaknya ditepuk seseorang. Ia menoleh ke belakang. Iko sudah berdiri di sampingnya. “Jadi brangkat gak Mas?” Torya tersenyum, bebarengan dengan anggukan yang mantap ia merangkul Iko dan menggeretnya keluar dari toko itu.
            “Ko, pulang sekolah ntar anterin aku ke toko pamanmu tadi ya.” Iko menatap Torya dengan wajah heran. Torya tersenyum penuh permohonan. “Aku tadi nemu barang bagus banget, pengen beli aku.” Mimik Iko seketika berubah. “Oh,..Ya.”
            Jam pulang sekolah terasa sangat lama. Torya mulai didera oleh rasa kantuk. Ia tak berdaya mendengar penjelasan dari Pak Mahmud guru sejarah di kelasnya. “Huuaaahh!!” kali ini Torya menguap untuk yang ke 12 kalinya. Torya memutuskan untuk bangkit. “Pak, permisi ke belakang.” Pak Mahmud hanya mengangguk tanpa melihat Torya. Torya membasuh mukanya berkali-kali. “Iya Paman, Ibu sudah mengabari kalau uangnya sudah sampai.” Torya hanya diam. Ia mencoba mempertajam pendengarannya. KLEK. Terdengar pintu kamar mandi di buka. Torya kembali ke depan wastafel dan mencuci mukannya kembali. Torya memandang sosok yang keluar dari kamar mandi. “Iko?” Torya mengembangkan bibirnya. Iko terkejut bukan main. “Hai, aku ke kelas dulu ya.” Torya hanya mengangguk. Ia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Dompetnya turut tertarik keluar dan jatuh. Dompetnya membuka. Ia teringat manik biru yang ia temukan di rumah Mona. Manik biru itu masih tersimpan rapi di dalam kertas koran. Ia menutup dompetnya dan memasukkannya kembali ke dalam sakunya. Dengan langkah cepat ia berjalan ke kelas. Pantatnya hampir menyentuh kursi, bel tanda pulang sekolah berdering. Ia tetap melanjutkan untuk duduk. Ia mencangklong ranselnya dan segera berhambur ke luar kelas. Ia merogoh saku celananya.
Q tunggu d g’bang,
Inged am janjimu td kn bro?
                                                Sent To : Iko
            Torya menyandarkan tubuhnya pada tiang di samping gerbang. Matanya mengamati satu per satu makhluk yang lewat di depannya. Iko berjalan gontai berdampingan dengan sepedanya. Iko hanya mengangguk mengisyaratkan Torya untuk segera naik. Dalam perjalanan mereka tak bergurau seperti biasanya. Diantara mereka berdua tidak ada yang bersedia membuka percakapan. Sampai di depan toko pamannya Iko merapatkan sepedanya ke trotoar. “Siang Paman!” Laki-laki tua itu menoleh dengan terkejut. Torya tersenyum mencoba mengakarbkan diri. Namun lelaki tua itu tak menggubrisnya. “Kesini lagi?Kurang yang tadi?” lelaki tua itu menatap Iko dengan tajam. Torya melirik Iko, Ia hanya tertunduk. “Ini temenku mau liat-liat toko paman.” Lelaki tua mengerdipkan matanya sebagai tanda kepahamannya. “Masuk aja.” Torya mengangguk dengan sopan. Ia berjalan beriringan dengan Iko. Langkah Torya lansung tertuju pada letak kalung bermanik biru tadi. “Boleh kufoto?” Torya menatap Iko. “Buat apa?” Iko sedikit memajukan wajahnya. “Buat koleksi di hpku Ko, boleh ya?” Jari Torya meraba kalung itu secara perlahan. “Terserah.” Torya merogoh ponselnya. Ia memfoto kalung tadi. Torya memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. “Pulang yuk!” Torya merangkul pundak Iko. “Gak jadi beli?” Iko tersenyum sambil memiringkan kepalanya sedikit. “Belum punya uang, toh aku udah punya fotonya.” Iko menggeleng jengkel. Mereka berdua keluar dari dalam toko. “Paman aku pulang dulu ya.” Paman Iko memandang dengan heran, dia menganggukkan kepalanya.
            Iko mengayuh sepedanya dengan cepat. Sesampai di tempat mereka kos, Torya turun dari sepeda Iko dan segera berlari ke kamarnya. Ia melepas sepatunya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Matanya terpejam. Tak terasa ia terlelap.
            Semuanya putih. Torya mencoba membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya. Asbes di kamar kosnya ternyata baru diperbaiki. Ia bangkit dan segera berganti pakaian. Ia berhambur ke rumah Mona. Mona tengah duduk di teras. Torya tersenyum lalu menghampirinya. “Ada acara gak?” Mona menatap Torya dengan wajah heran. Ia menggelengkan kepalanya. “Ikut aku yuk.” Mona menurut saja saat tangannya digeret Torya. Mereka berjalan beriringan menyusuri trotoar. Torya merogoh sakunya. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan untuk Pya. “Kita mau kemana?” Mona mulai membuka percakapan. Torya hanya tersenyum. Langkah Torya terhenti di depan toko paman Iko tadi. Mona menatap Torya dengan wajah heran. Torya mengangkat kedua alisnya memberi isyarat agar Mona mengikuti langkahnya. Mereka masuk ke dalam toko. “Silahkan!” Paman Iko kini lebih ramah daripada tadi siang saat Torya berkunjung bersama Iko. Mereka berjalan menyusuri etalase yang berisikan barang-barang elektronik bekas. Terlihat dua pekerja yang tengah membersihkan debu-debu di atas etalase. Ponsel Torya bergetar. Dia memandang layar ponselnya dengan wajah serius. Dia tertegun cukup lama. Mereka terus berjalan menyusuri lobi toko. Pada sampai akhirnya mereka kembali lagi ke meja kasir. “Paman, boleh saya bertanya?” Paman Iko hanya mengangguk. “Televisi nomor 3 dari kanan paman beli dari siapa?” Lelaki tua itu benar-benar terkejut. “Saya tak bermaksud menuduh paman, namun bukti-bukti yang saya temukan tak dapat menolak fakta Paman. Tadi subuh saya mendengar percakapan dua orang lelaki saya yakin mereka berdua yang merampok rumah Mona tadi malam. Televisi itu menjadi bukti utama, awalnya saya tidak menyadari tapi…” Torya merogoh ponsel di sakunya. Dan menunjukkan layar ponselnya yang bergambar fotonya bertiga bersama Mona dan Pya pada lelaki tua itu. “Stiker yang menempel pada TV itu sama persis dengan stiker yang menempel pada TV-nya Mona. Coba lihat TV di balik 3 orang ini. Saya lihat pekerja Paman mengenakan kalung yang sama.”Torya mengeluarkan manik biru yang terbungkus kertas koran dari sakunya. “Saya sudah menghitung jumlah manik kalung yang menggantung di sana sebanyak 28 biji. Kalung itu sama persis dengan yang dikenakan pekerja Paman. Kalau boleh saya hitung jumlah manik kalung pekerja paman satu per satu pasti salah satu diantaranya berjumlah 27 biji. Bagaimana?” Torya tersenyum sinis. “Torya awas!!!!Aaaa!!!” Sebuah pisau terhunus pada dada Mona. Napasnya mulai tak beraturan. Terdengar suara sirine polisi. Torya memeluk Mona erat-erat. “Mona kamu harus kuat Mon.” Paman Iko beserta para pekerjanya digiring ke kantor polisi. Pya menghampiri Torya dan Mona. “Cepat telfon ambulance Ya!” Torya menangis sejadi-jadinya sampai pacarnya pun ia bentak. “I I iya.” Namun terlambat Mona sudah tiada.
            Pemakaman Mona berlangsung kidmat. Banyak tangis duka yang menyelimuti prosesi tersebut. Satu per satu pelayat meninggalkan makam Mona. Hingga akhirnya hanya tersisa Torya dan Pya yang tak beranjak dari tempat tersebut.  “Pya, aku ingin jujur satu hal.” Pya yang masih sesenggukan menatap Torya dalam-dalam. “Sesungguhnya rasaku padamu tak lebih dari sebatas sahabat. Aku sebenarnya mencintai Mona, hanya saja dia menyuruhku membuktikan cintaku kepadanya dengan aku harus berpacaran denganmu. Karena dia tahu kamu cinta ke aku. Maafin aku Ya.” Pya hanya tertunduk. Tangisnya makin menjadi. Namun ia tetap berusaha berkata-kata. “Jujur, aku kecewa dan marah padamu. Namun jika ini takdirnya aku rela. Aku juga minta maaf karena telah melarutkanmu dalam kebohongan. Aku pergi dulu sampai jumpa di kisah yang lain.” Pya menepuk pundak Torya dan meninggalkan Torya seorang diri di samping makam Mona.

Biarlah kusimpan, sampai nanti aku
Kan ada disana, kenanglah diriku
Dalam kedamaian, ingatlah cintaku
Kau tak terlihat lagi, namun cintamu abadi,

SELESAI

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar